Masih Banyak Perempuan Papua yang Buta Aksara

By muli

Cenderawasih Pos, 25 Oktober 2007

 

MERAUKE- Gubernur Papua Barnabas Suebu, SH mengaku prihatin dengan masih banyaknya Perempuan Papua yang tidak tahu membaca dan menulis yang dikenal dengan buta aksara. Keprihatinan Gubernur tersebut disampaikan dalam sambutan tertulisnya dibacakan Wakil Bupati Merauke Drs Waryoto, M.Si, pada pembukaan Tutor Buta Aksara Perempuan dan Pelatihan Kepemimpinan Wanita, di Merauke, Rabu (24/10).

Meski persoalan buta aksara hampir terjadi di semua Negara, namun kondisi tersebut sangat terkait dengan masalah kemiskinan, keterbelakangan dan ketidakberdayaan.

Salah satu indikator sumber daya manusia adalah keaksaraan penduduk. ‘’Perempuan yang buta aksara yang sudah memiliki anak dan kelak menikah, menjadi ibu dari anak-anak akan mempunyai hambatan didalam proses kembang anak karena tidak memiliki kemampuan dalam memberikan pendidikan yang baik,’’ jelasnya. Apalagi, berdasarkan hasil studi membuktikan buta aksara tersebut berpengaruh pada angka kematian bayi, ibu dan kualitas hidup.

Melek aksara, merupakan kunci penting untuk meningkatkan pendidikan, kesehatan, gizi dan kesejahteraan keluarga. Karena dengan melek aksara dan pendidikan, maka perempuan akan semakin berdaya, dapat
mengambil keputusan sendiri dan mempunyai posisi tawar yang cukup kuat di dalam keluarga dan masyarakat.

Karena pentingnya melek aksara tersebut, kata Gubernur, diperlukan komitmen semua pihak baik pemerintah, organisasi kemasyarakatan, organisasi perempuan dan swasta serta semua lapisan masyarakat
untuk meningkatkan keaksaraan perempuan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup perempuan.

Menurut Gubernur, untuk meningkatkan keaksaraan perempuan, maka Pemerintah Provinsi menetapkan program aksi tentang percepatan pemberantasan buta aksara perempuan. ‘’Badan Pemberdayaan Perempuan Provinsi Papua memandang perlu meningkatkan kemampuan dan keteranmpilan memimpin menuju pemimpin perempuan yang berkualitas serta pendidikan tutor akasara perempuan untuk memberantas angka buta aksara perempuan dalam meningkatkan kualitas hidup perempuan,’’ terangnya.

Pelatihan yang berlangsung sampai 27 Oktober tersebut diikuti 33 peserta dari 5 Kabupaten Merauke, Boven Digoel, Mappi, Asmat dan Pengunungan Bintang. (ulo)

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan