Suara Pembaruan Daily, 22 Oktober 2007
George Junus Aditjondro
Aksi-aksi massa pro dan kontra peluncuran satelit Rusia dari Bandara Frans Kaisiepo telah melanda Kota Biak di Tanah Papua, selama dua minggu yang lalu. Pada Rabu dan Kamis 10-11 Oktober, seminggu setelah aksi penolakan Dewan Adat Biak terhadap peluncuran satelit Rusia (lihat George Junus Aditjondro, “Mengapa Rakyat Biak Menolak Peluncuran Satelit Rusia?”, Suara Pembaruan, Senin, 8 Oktober), terjadi aksi massa mendukung peluncuran satelit Rusia itu.
Aksi di hari pertama diikuti oleh kepala-kepala desa yang terhimpun dalam Forum Kepala Desa Kabupaten Biak serta sejumlah pegawai negeri di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Biak. Keesokan harinya, sejumlah tukang ojek dan pemuda penganggur melakukan demo serupa. Demonstrasi kelompok yang menyebut diri Tim Sosialisasi Peduli Pembangunan Peluncuran Satelit (Cenderawasih Pos, 12 Oktober 2007), tidak terlepas dari dukungan aparat eksekutif dan legislatif Kabupaten Biak. Sebab dari informasi yang penulis terima dari sumber-sumber di Kota Biak, aksi mendukung peluncuran satelit Rusia dipersiapkan di gedung DPRD Biak.
Aksi-aksi tandingan sedianya akan mengajukan dua tuntutan. Pertama, mendukung peluncuran satelit-satelit Rusia dari Biak. Kedua, menolak legalitas Dewan Adat Biak. Namun, tuntutan kedua tidak jadi diajukan. Tuntutan ini dapat ditangkal dengan mudah. Sebab keberadaan Dewan Adat di setiap kabupaten dan provinsi didasarkan pada pengakuan terhadap hak-hak adat rakyat Papua – termasuk hak ulayat – dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua, yang ditandatangani Presiden Megawati Soekarnoputri pada 21 November 2001.
Aksi-aksi massa semacam ini, baik yang menolak maupun yang mendukung rencana peluncuran satelit Rusia dari Bandara Frans Kaisiepo, jarang sekali terjadi di Biak, setelah aksi massa di Kota Biak 6 Juli 1998, di mana 150 orang meninggal tertembak aparat. Pertanyaannya sekarang, apakah aparat keamanan di Biak akan menahan diri dari represi seperti pada 6 Juli 1998? Ataukah represi dari aparat keamanan akan digantikan oleh penyulutan konflik horisontal di antara yang menolak dan yang mendukung peluncuran satelit Rusia itu?
Pertanyaan itu berdasarkan kenyataan bahwa dalam penolakan maupun dukungan terhadap peluncuran satelit ada anggota salah satu dari enam marga pemilik tanah ulayat bandara, yakni Ronsumbre. Pihak pendukung yang dipimpin oleh Mathias Ronsumbre beranggapan bahwa peluncuran satelit akan membawa rezeki bagi masyarakat setempat. Alasan “membawa rezeki” ini sejalan dengan apa yang sudah dikemukakan oleh Bupati Biak Yusuf Melianus Maryen.
“Dengan dipilih sebagai lokasi peluncuran satelit Biak Numfor akan dibangun dengan fasilitas teknologi canggih dan prasarana modern, yang akan punya dampak positif bagi ekonomi setempat dan bagi pengembangan teknologi,” kata Maryen kepada Xinhua News Agency, 10 September 2007.
Reputasi
Betapapun, keberatan-keberatan Dewan Adat Biak, yang merasa kepada masyarakat adat setempat tidak pernah diberitahukan mengenai dampak positif maupun negatif dari peluncuran satelit, cukup beralasan juga. Apalagi melihat kemungkinan terjadinya kecelakaan dalam peluncuran satelit yang harus digandeng ke orbit oleh sebuah roket, yang sering dialami AS dan Rusia.
Pada Rabu, 5 September malam, roket Proton-M milik Rusia yang membawa satelit komunikasi Jepang meledak sesudah lepas landas dari kosmodrom Baikonur di Kazakhstan pukul 2.43 dini hari waktu Rusia. Roket bertingkat 18 itu meledak setelah terjadinya gangguan pada mesin dan gangguan dalam pelepasan tingkat dua roket, 139 menit setelah terbang, dan jatuh di stepa Kazakhstan, 50 km sebelah tenggara Kota Dzhezkazgan (RIA Novosti, 7 September 2007).
Kecelakaan Rabu malam atau Kamis dini hari, 5-6 September, itu merupakan kecelakaan peluncuran roket Proton yang keempat dari 42 peluncuran roket itu sejak 1996. Kecelakaan-kecelakaan sebelumnya pada 1997, 2002, dan 2006 disebabkan gangguan pada tingkat-tingkat atas roket. Sedangkan gangguan pada tingkat kedua roket Proton sebelumnya menggagalkan peluncuran dari Baikonur pada 5 Juli dan 28 Oktober 1999. Akibatnya, International Launch Services (ILS), maskapai AS yang memasarkan roket Proton, membatalkan rencana peluncuran Proton lainnya sambil menanti hasil investigasi pemerintah Rusia (Spaceflight Now, 6 September 2007).
Masih banyak kecelakaan saat peluncuran roket Rusia dan negara eks Uni Soviet lainnya. Di antaranya, Pada 20 Mei 1996, roket Soyuz-U meledak 49 detik setelah lepas landas dari Baikonur. Padal 4 Juni 1996, roket Soyuz-U lain meledak setelah lepas landas dari Plesetsk. Pada 20 Mei 1997, roket Zenit-2 yang membawa satelit militer Cosmos meledak 48 detik setelah lepas landas. Tanggal 10 September 1998, gangguan komputer pada roket Ukrainia yang membawa 12 satelit komersial menjatuhkan roket itu setelah lepas landas dari Baikonur.
Begitulah kronologi dari Knight’s Canadian Info Collection, yang juga membeberkan kecelakaan peluncuran satelit oleh AS, Kanada, Perancis, dan Tiongkok.
Rezeki Atau Radiasi?
Kalau kecelakaan serupa terjadi dalam peluncuran satelit dari Bandara Frans Kaisiepo, kepingan-kepingan roket dan satelit bisa terhambur ke antero Teluk Saireri, yang padat penduduk, perahu, dan kapal. Ini yang dikhawatirkan kalangan cendekiawan di Tanah Papua, apalagi bila roket peluncur satelit Rusia bertenaga nuklir. Kekhawatiran itu beralasan kalau kita lihat rekor kecelakaan roket Rusia sejak masih bagian dari Uni Soviet, menurut data yang dihimpun Palm Beach Post dari NASA dan Christian Science Monitor.
Pada Januari 1969, pesawat roket bulan Cosmos 305 kehilangan tenaga dan tetap di orbit mengelilingi bumi, melepas radiasi nuklir di atmosfir bagian atas. Musim gugur 1969, pesawat roket bulan tak berawak membakar habis bahan bakarnya dan melepas radio aktivitas di atmosfir bagian atas. Kepingan-kepingan pesawat itu diperkirakan jatuh ke lantai samudera.
Pada April 1973, peluncuran satelit Rorsat gagal. Reaktor nuklir jatuh di Samudera Pasifik di sebelah utara Jepang. Radiasinya dapat diamati. Pada Januari 1978, peluncuran roket Cosmos 954 gagal, sehingga 68 pound Uranium-235 jatuh melintasi atmosfir bumi dan tersebar di wilayah barat daya Kanada. Tim bersama Kanada dan AS membersihkannya. Tidak ditemukan kontaminasi yang teramati.
Selanjutnya, pada 1982 peluncuran roket Cosmos 1402 gagal. Reaktor nuklirnya terlepas dari pesawat dan jatuh ke bumi secara terpisah pada Februari 1983, meninggalkan jejak radioaktif di atmosfir dan jatuh di Samudera Atlantik bagian selatan. Tidak diketahui apakah sampah radioaktif mencapai muka bumi atau lautan.
April 1988, satelit radar pengamat Soviet gagal dilepaskan dari roket Cosmos 1900. Reaktor inti terdorong ke orbit cadangan 50 mil di sebelah bawah ketinggian yang direncanakan. Pada Februari 1993, roket Cosmos 1402 jatuh di Samudera Atlantik sebelah selatan membawa 68 pound Uranium 235.
Kemudian pada November 1996, roket Mars 96 jatuh berkeping- keping di atas Chile atau Bolivia, yang kemungkinan menyebarkan setengah pound Plutonium.
Melihat semua data itu, sudah sepantasnya masyarakat adat di Pulau Biak, tokoh adat, pemimpin agama, dan cendekiawan dari seputar Teluk Saireri, bahkan dari seluruh Tanah Besar, dilibatkan dalam pengambilan keputusan untuk menjadikan Bandara Frans Kaisiepo menjadi “kosmodrom” bagi peluncuran satelit-satelit Rusia serta negara-negara lainnya. Sebab sampai saat ini telaah tentang untung-rugi peluncuran satelit Rusia dari Pulau Biak, apakah akan lebih banyak menghasilkan rezeki atau radiasi, hanya monopoli sejumlah pakar di Jakarta.
Penulis pernah tinggal dan bekerja untuk pengembangan masyarakat di Papua Barat (1982-1987). Bukunya, Cahaya Bintang Kejora: Papua Barat dalam Kajian Sejarah, Budaya, Ekonomi, dan Hak Asasi Manusia, diterbitkan Elsam, Jakarta, 2000.
Tag: Bandara Frans Kaisiepo, Biak, George Junus Aditjondro, opini, Rusia, satelit
Oktober 25, 2007 pukul 1:42 pm
kalau bisa saya minta informasi lebih banyak tentang dampak negatif dari peluncuran satelit yang menggunakan bahan bakar nuklir bagi manusia dan lingkungan. kita dapat rzeki yapi kalau kita mendapat banyak penyakit dan dampak buruk gimana? karena yang dikhabarkan di media masa kebanyakan semua tentang yang baik aja yang buruknya tidak ada.
Oktober 29, 2007 pukul 10:46 am
kami mohon bantuannya untuk mencari tau dampak negatif dari proyek peluncuran satelit ini. klo boleh jika ada informasi tentang hal ini dikrim lewat emai kami saja. teks
Oktober 29, 2007 pukul 10:52 am
selaku mhs asal biak sampai dengan saat ini kami belum tau benar giamana sistim peluncurannya. dan mengapa biak? kenapa nda di ace aja buatnya kan lebih dekat ke garis katulisiwa. jika memang belum ada kejelasan tentang dampak yang akan di alami oleh masyrakat biak maka dengan tegas kami menolak peluncuran satelit ini di laksanakan di biak.
Desember 9, 2007 pukul 8:59 am
Dalam kasus ini, terlebih lagi mengenai masalah peluncuran, kita meliihat kembali kepada konvensi mengenai pertanggungjawaban(liability convention) atau yang lebih lengkapnya Convention on International Liability for Damage caused by space object..dalam konvensi tersebut dikatakan bahwa “launching states” adalah:
1. negara yang ingin meluncurkan space object, dan
2. negara dimana wilayah teritorinya dipakai untuk peluncuran space object..kemudian, launching states ini bertanggungjawab secara absolut untuk membayar kompensasi yang terjadi apabila space object tersebut jatuh kepermukaan bumi ataupun menabrak pesawat yang sedang terbang..artinya, negara indonesia dalam hal ini apabila peluncuran tersebut gagal dan jatuh kenegara lain, ikut bertanggungjawab membayar ganti rugi yang cukup besar..kemudian dikatakan juga dalam konvensi tersebut dikecualikan kepada negara nationalnya,yaitu apabila dalam hal ini biak ingin meluncurkan satelit dan mengenai warga negaranya sendiri hal ini dikecualikan dalam hal penuntutan ganti rugi..artinya warga biak yang nantinya meninggal akibat terkena pecahan satelit yang meledak sebelum peluncuran tidak akan mendapat kompensasi pembayaran..
jadi menurut saya,wajar saja jika warga biak menolak peluncuran tersebut!
Februari 5, 2009 pukul 2:15 pm
[...] Menanti Rezeki atau Radiasi dari Satelit Rusia? [...]